INDRAMAYU, (NMEDIA.id).- Sebanyak 80 rumah warga di Desa Bunder, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu terendam banjir dengan ketinggian sekitar 80 cm, Banjir tersebut dipicu akibat luapan air dari Kali Asin yang mengalir deras ke area permukiman.
Berdasarkan pantauan, hingga pukul 21.00 WIB, genangan air masih menutup sebagian ruas jalan dan masuk ke dalam rumah warga. Di salah satu rumah, ketinggian air bahkan mencapai sekitar 50 cm.
Salah satu warga terdampak, Warji (65), menceritakan detik-detik ketika banjir mulai masuk ke rumahnya sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu ia sedang tertidur dan baru tersadar ketika tangannya terasa basah.
“Waktu itu saya lagi tidur. Tangan saya basah karena tidur di lantai. Kaget begitu terasa basah, ternyata sudah kebanjiran jam tiga malam,” ujarnya.Rabu (19/11/2025)
Warji mengaku hanya sempat menyelamatkan pakaian sebelum air terus meninggi. Kondisi rumahnya yang sudah tua membuat sebagian tembok bangunan ikut roboh.
“Pasrah saja. Rumah tua kena banjir, campur angin, hujannya gede, tembok pun pada jebol,” katanya.
Sementara, Kepala Desa Bunder, Dedi, mengatakan banjir di wilayahnya kerap terjadi karena kondisi tanah yang rendah. Selain itu, air kiriman dari wilayah selatan juga sering memicu luapan Kali Asin.
“Bagi masyarakat di sini, banjir sudah seperti tradisi karena sering terjadi. Air mulai masuk ke permukiman jam tiga pagi. Pagi-pagi kami langsung keliling, dokumentasi, mendata, dan menghubungi pihak kecamatan,” kata Dedi.
Ia menyebut sekitar 80 rumah terdampak banjir. Sejumlah warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat karena air sudah masuk ke dalam rumah dan mencapai lantai bangunan. “Yang mengungsi itu beberapa rumah, terutama yang airnya sudah tinggi,” ujarnya.
Dedi menuturkan, pihak kecamatan, Koramil, dan Polsek datang sejak pagi untuk meninjau lokasi banjir serta memastikan situasi di lapangan. Meski begitu, ia menilai perlunya pembangunan tanggul sebagai solusi jangka panjang agar luapan Kali Asin tidak kembali merendam permukiman.
“Kami berharap bisa dibangun tanggul agar air dapat tertahan dan tidak lagi masuk ke permukiman,” katanya.
Hingga Selasa malam, pemerintah desa masih terus memantau perkembangan kondisi air di sejumlah titik yang sebelumnya terendam.
Dedi menyebut pemantauan dilakukan secara berkala untuk memastikan ketinggian air benar-benar menurun, sekaligus mengantisipasi banjir susulan maupun potensi luapan kembali dari Kali Asin. (Lang/NM)












