Puluhan Water Meter Pelanggan Perumdam Indramayu Hilang Misterius, PDAM Minta Pelanggan Waspada

INDRAMAYU, (NMEDIA.id).- Puluhan water meter milik pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Darma Ayu Indramayu dilaporkan hilang secara misterius dalam beberapa waktu terakhir. Water meter tersebut diduga dicuri orang, mengingat kondisi di lapangan menunjukkan adanya kerusakan pada instalasi pipa.

Laporan kehilangan tersebut disebut marak terjadi di sejumlah wilayah dan ramai diperbincangkan di media sosial. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelanggan terkait keamanan fasilitas air bersih.

Berdasarkan foto yang beredar, terlihat pipa dalam kondisi terpotong dan rusak, sementara water meter yang sebelumnya terpasang sudah tidak berada di tempatnya.

Manajer Humas Perumdam Tirta Darma Ayu Indramayu, Budhi Suprihatin, membenarkan adanya laporan kehilangan water meter dari sejumlah cabang unit. Ia menyebut, laporan tersebut terus berdatangan dan saat ini masih dalam proses pendataan secara menyeluruh.

“Memang pada saat ini banyak laporan pengaduan dari cabang unit terkait maraknya water meter hilang. Karena water meter tersebut merupakan barang milik kami yang dipinjamkan kepada pelanggan, kami mengimbau agar segera melaporkan kejadian ini ke Polsek setempat,” ujar Budhi, Senin (13/4).

Ia menjelaskan, setelah melapor ke kepolisian, pelanggan diminta melanjutkan laporan ke cabang unit Perumdam agar dapat diproses penggantian. Hal ini merupakan bagian dari mekanisme administrasi sebelum pemasangan water meter baru dilakukan.

“Setelah laporan ke polisi, pelanggan bisa melapor ke cabang unit untuk diproses penggantiannya. Kami juga mengimbau agar pelanggan lebih berhati-hati karena saat ini kasus kehilangan sedang marak,” katanya.

Budhi menegaskan, kehilangan water meter menjadi tanggung jawab pelanggan karena alat tersebut merupakan aset Perumdam yang dipinjamkan. Sesuai ketentuan, pelanggan diwajibkan mengganti perangkat yang hilang dengan biaya sendiri.

“Jika sudah hilang, itu menjadi tanggung jawab pelanggan dan harus diganti dengan biaya sendiri. Aturannya memang seperti itu,” tegasnya.

Berdasarkan data sementara, kehilangan water meter telah dilaporkan di sejumlah wilayah, di antaranya Jatibarang dan Lohbener. Namun, Budhi menyebut angka tersebut belum mencerminkan total keseluruhan karena laporan dari cabang lain masih terus dikumpulkan dan direkap oleh pihak Perumdam.

“Sampai saat ini ada beberapa wilayah sudah melaporkan ke kita, diantaranya Jatibarang ada 18, Lohbener ada sekitar lebih dari 5, tapi totalnya sampai saat ini masih berjalan, belum semua masuk ke kita,” tuturnya.

Budhi mengungkapkan, kasus serupa sebenarnya pernah terjadi, namun tidak sebanyak saat ini. Kondisi tersebut dinilai berbeda dari biasanya sehingga menjadi perhatian khusus bagi pihak Perumdam.

“Sebetulnya kalau dulu pernah, tetapi tidak sampai sebanyak ini. Karena itu, ketika ada laporan dari beberapa cabang unit dengan jumlah yang cukup banyak, hal ini menjadi kejadian yang bisa dibilang anomali,” ungkapnya.

Budhi mengatakan, kehilangan water meter juga berdampak pada terganggunya layanan air bersih bagi pelanggan. Selain harus melalui proses administrasi, pelanggan juga tidak dapat menikmati layanan air hingga water meter pengganti dipasang kembali.

“Kalau dampaknya, otomatis pelanggan tidak mendapatkan air bersih. Karena ketika water meternya hilang atau dicuri, itu harus menyelesaikan dulu administrasinya,” jelas Budhi.

Di sisi lain, Budhi juga mengingatkan pelanggan agar tidak melakukan penyambungan air secara mandiri tanpa melapor, karena tindakan tersebut termasuk pelanggaran yang dapat berujung pada sanksi dan denda.

“Kalau misalkan water meternya hilang dan disambung sendiri tanpa ada pemberitahuan ke kita, itu terjadi pemakaian air secara ilegal. Nanti kena denda,” tegasnya.

Terkait penanganan, Budhi menyebut sebagian besar cabang unit telah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek setempat. Langkah ini dilakukan sebagai upaya awal dalam penanganan kasus serta untuk membantu proses penyelidikan oleh aparat kepolisian.

“Kalau cabang unitnya sudah. Sebetulnya ada, sudah kebanyakan sudah melaporkan, cuma secara global kita di pusat ini belum,” terangnya.

Ia menambahkan, pihak Perumdam saat ini masih mengonsolidasikan data dari seluruh cabang sebelum berkoordinasi lebih lanjut dengan kepolisian di tingkat Polres. Konsolidasi ini penting untuk mengetahui jumlah total kasus secara menyeluruh dan menentukan langkah penanganan berikutnya.

“Nanti setelah keseluruhan data terkumpul kita berkoordinasi dengan pihak Polres. Kita pengin tahu sebetulnya berapa global semua totalnya,” pungkasnya. (Wir/NM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *