INDRAMAYU, (NMEDIA.id).- Nasib pilu dialami delapan pekerja asal Kabupaten Indramayu yang bekerja di Papua, mereka terlantar dan Kelaparan karena tidak mendapatkan upah yang layak sebagai pekerja kuli bangunan.
Para pekerja yang berprofesi sebagai kuli bangunan itu diketahui tersebar di beberapa titik di Papua, termasuk wilayah Sermayam, Merauke, Papua Selatan. Mereka mengalami kesulitan ekonomi, bahkan terancam kelaparan lantaran tidak menerima upah secara layak dan kini tidak memiliki biaya untuk kembali ke kampung halaman.
Ketua Gerakan Rakyat Indramayu, Muhamad Solihin, turut merasa prihatin atas kondisi tersebut. Ia menyebut para pekerja sebelumnya dijanjikan upah besar dengan sistem lembur oleh mandor.
“Namun kenyataannya, pembayaran tidak sesuai kesepakatan. Gaji dicicil dan tidak jelas, sehingga mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan untuk mengirim uang ke keluarga saja tidak bisa,” ujar Solihin, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, total terdapat 26 pekerja asal Indramayu yang berangkat ke Papua sejak Agustus 2025 untuk bekerja pada proyek pembangunan barak TNI. Namun, sebagian telah kembali secara mandiri setelah mendapat bantuan keluarga.
“Saat ini tersisa delapan orang yang tidak mampu pulang karena tidak memiliki biaya,” katanya.
Solihin menambahkan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, termasuk Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) dan Bupati Indramayu. Pemerintah daerah disebut telah merespons cepat dengan menyiapkan tiket kepulangan bagi para pekerja.
“Insyaallah tiket sudah disiapkan. Tinggal menunggu kepastian dari pihak di sana terkait pembayaran upah yang masih tertunda,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja pada Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Indramayu, Asep Kurniawan, mengatakan pihaknya telah menerima laporan sejak beberapa waktu lalu dan langsung melakukan koordinasi dengan para pekerja di lokasi.
Menurutnya, para pekerja menghadapi kendala pembayaran upah yang tersendat dalam dua bulan terakhir. Padahal, sistem pembayaran seharusnya dilakukan setiap dua minggu.
“Akibat keterlambatan itu, mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan untuk bertahan di sana saja mereka mengalami kesulitan,” ujar Asep saat ditemui di ruang kerjanya
Ia menambahkan, para pekerja telah berada di Papua selama lebih dari tujuh bulan. Awalnya proyek ditargetkan selesai dalam lima bulan, namun mengalami keterlambatan sehingga sebagian pekerja masih tertahan.
Dalam video yang beredar, salah satu pekerja, Catu Wijaya, memohon bantuan kepada pemerintah daerah agar dapat segera dipulangkan.
“Kami terlantar di Papua. Mau pulang tidak punya ongkos. Tolong kami,” ucapnya.
Catu menyebut dirinya bersama tujuh rekannya bekerja di proyek pembangunan barak TNI di kawasan Batalyon Infanteri Yonif TP 818/YUBOI. Namun, pekerjaan tidak berjalan sesuai rencana dan upah tidak kunjung dibayarkan.
Para pekerja berharap pemerintah daerah dapat segera melakukan koordinasi lintas wilayah untuk memfasilitasi kepulangan mereka. Saat ini, mereka bertahan dengan kondisi serba terbatas dan makanan seadanya.
Dari total pekerja yang berangkat, delapan orang masih tertahan di Papua, sementara lainnya telah kembali ke Indramayu dengan bantuan keluarga. (Wir/NM)












